Apa Saja Bahasa Pemrograman Yang Banyak Dipakai Perusahaan?

Bagi pelajar / mahasiswa / kalangan umum yang tertarik bekerja sebagai programmer, pertanyaan ini cukup penting dan sering diajukan, yakni: Apa saja bahasa pemrograman yang banyak dipakai perusahaan?

Sebagian besar dari tujuan kita belajar programming adalah agar bisa menghasilkan uang, yang salah satu caranya dengan bekerja di perusahaan pembuat software (sebagai programmer profesional), atau sebagai pegawai di divisi IT perusahaan.

Ilustrasi programmer bekerja

Programmer adalah profesi yang cukup unik dan sangat menantang. Modal ijazah formal saja tidak cukup, tapi harus disertai dengan sederet skill bahasa pemrograman yang harus dikuasai. Sering kali bahasa pemrograman ini malah tidak diajarkan di kampus, atau jikapun ada hanya sekedar dasar saja. Seperti yang pernah kita bahas di Dilema Lulusan Ilmu Komputer dan Teknik Informatika: Antara Teori dan Praktek.

Bisa jadi anda lolos syarat administrasi karena sudah menyandang ijazah S1 Teknik Informatika dari universitas ternama, namun gagal di test skill karena perusahaan butuh seorang programmer yang ahli di bahasa pemrograman A, sedangkan yang di kuasai adalah bahasa pemrograman B. Jadi bagaimana menyikapi hal ini? Kita akan bahas dengan lebih dalam.

Apakah seorang programmer harus memiliki ijazah formal? Bisa juga lanjut baca ke: Ingin Jadi Programmer, Harus Kuliah atau Cukup Otodidak?

Mass Market vs Niche Market

Dalam dunia ekonomi, terdapat istilah mass market dan niche market. Konsep ini juga bisa kita terapkan dalam keputusan untuk memilih bahasa pemrograman yang akan dipelajari.

Mass market adalah sebutan untuk suatu produk yang dibutuhkan banyak orang. Namun karena banyak yang perlu, persaingan juga makin ketat.

Contohnya seperti produk sabun mandi. Saya yakin sebagian besar dari kita sudah hapal setidaknya 1 atau 2 merk produk sabun. Dan di luar sana terdapat puluhan merk sabun mandi yang saling berebut menawarkan produknya.

Namun bagaimana dengan produk sabun mandi khusus kucing? Kecuali anda punya peliharaan kucing premium (yang memiliki perawatan khusus), mungkin tidak hapal merk sabun atau shampoo kucing, atau malah belum tau bahwa ada produk sabun mandi khusus kucing.

Shampoo untuk kucing ini adalah contoh produk niche market, dimana kebutuhannya sangat spesifik dan relatif jarang tersedia karena  tidak banyak yang menggunakan. Hal yang mirip juga bisa kita bawa ke dunia programming.

Jika kita memutuskan memilih bahasa pemrograman mass market, lowongan kerjanya juga banyak, namun tentu saja pesaingnya juga tidak sedikit.

Di lain pihak, kita bisa saja memilih bahasa pemrograman yang agak jarang dipakai, dengan harapan jika ada perusahaan yang mencari skill tersebut, pesaing kita juga sedikit karena tidak banyak yang mau mempelajarinya.

Perbedaan kebutuhan ini bisa sampai ke hal besaran gaji. Jika banyak programmer yang mendaftarkan diri, maka pihak perusahaan berkesimpulan bahwa mereka bisa melakukan negosiasi dan mencari programmer yang mau di gaji serendah mungkin, atau setidaknya setara UMR. Toh jika si A menolak, masih ada si B yang mau di gaji segitu.

Namun jika yang memiliki skill cuma sedikit, giliran si calon programmer yang bisa menaikkan standar gaji, karena memang tidak banyak yang paham bahasa pemrograman tersebut.

Jadi, tergantung juga apakah anda ingin masuk ke bahasa pemrograman “sejuta umat”, atau memilih satu bahasa yang relatif jarang.

Bagi saya pribadi, lebih cenderung memilih bahasa pemrograman yang banyak dibutuhkan. Meskipun pesaingnya juga tidak sedikit, tapi kita bisa tampil lebih menonjol dengan memperdalam skill atau memajang berbagai karya yang sudah pernah dibuat untuk membuktikan kita memang punya keahlian (membuat portfolio).

Bisa jadi si A dan B sama-sama paham sebuah bahasa pemrograman, namun B memiliki pengalaman yang lebih banyak sehingga perusahaan juga lebih memilih B meskipun harus membayar lebih mahal daripada A yang baru paham sampai tahap menengah.

Dalam beberapa kasus, bisa saja bahasa pemrograman niche ini sebenarnya sangat prospek, tapi tidak banyak dipakai karena masih relatif baru. Ini pun juga bisa dipilih karena peluang di masa depan jadi lebih besar. Tapi bisa saja ternyata perusahaan lambat merespon dan butuh beberapa tahun lagi hingga tersedia lowongan kerjanya.


Fokus ke Satu Bidang, Lalu Baru pilih Bahasa Pemrogramannya

Ilustrasi kantor kerja programmer

Pilihan bahasa pemrograman juga dipengaruhi aplikasi yang akan dibuat. Karena umumnya sebuah bahasa pemrograman hanya kuat di satu atau dua bidang saja.

Jenis-jenis aplikasi ini juga beragam, agar lebih sederhana, akan saya kelompokkan ke dalam 3 bidang paling umum:

  • Aplikasi Desktop
  • Aplikasi Mobile (Android dan iOS)
  • Aplikasi Web

Aplikasi Desktop

Aplikasi desktop adalah sebutan untuk aplikasi yang biasa kita install di komputer atau laptop. Pilihan sistem operasi juga mempengaruhi, karena beda sistem operasi bahasa pemrograman yang dipakai juga akan berbeda (meskipun beberapa bahasa pemrograman menjanjikan bisa mendukung beragam sistem operasi).

Terdapat 3 sistem operasi yang banyak dipakai: Windows, Mac OS, dan Linux. Bagi kita di Indonesia, sistem operasi Windows masih yang paling populer, sehingga peluang kerja sebagai programmer aplikasi Windows juga lebih besar dibandingkan programmer untuk aplikasi Mac OS dan Linux.

Untuk sistem operasi Windows, bahasa pemrograman paling banyak dipakai adalah “keluarga” Visual Studio, yakni Visual C#, Visual Basic atau Visual C++ (bisa pilih salah satu). Karena dibuat oleh perusahaan yang juga membuat Windows, yakni Microsoft, maka seharusnya Visual Studio memiliki banyak keunggulan dibandingkan bahasa pemrograman lain.

Sebagai alternatif, anda bisa memilih belajar bahasa Java yang umumnya dipakai oleh perusahaan besar untuk membuat aplikasi desktop. Selain itu bisa juga menggunakan Delphi atau versi open sourcenya yakni Lazarus.

Aplikasi Mobile

Aplikasi mobile adalah aplikasi yang biasa kita install ke dalam smartphone. Di sini juga terdapat 2 buah pilihan sistem operasi, yakni Android dan iOS.

Untuk membuat aplikasi android, bahasa pemrograman yang paling banyak dipakai adalah bahasa Java yang digunakan pada aplikasi Android Studio. Alternatif lain juga bisa memilih bahasa Kotlin yang baru-baru ini juga dijadikan sebagai bahasa pemrograman resmi untuk Android Studio (selain Java).

Untuk membuat aplikasi iOS, bisa memilih bahasa pemrograman resmi dari Apple, yang bahasa pemrograman Swift.

Aplikasi Web

Aplikasi web adalah aplikasi yang berbentuk sebuah website. Dibandingkan 2 bidang programming sebelumnya (desktop dan mobile), bahasa pemrograman yang dipakai untuk membuat website adalah yang paling “rame” dan punya banyak alternatif pilihan.

Proses membuat web juga agak sulit karena harus menggabungkan berbagai jenis bahasa pemrograman. Namun sebagai inti, HTML dan CSS adalah dua bahasa yang harus dikuasai pertama kali.

Agar mendapat gambaran yang lebih utuh tentang cara kerja web, sebaiknya pelajari 5 materi dasar, yakni HTML, CSS, JavaScript, PHP dan MySQL. Ini adalah “paket klasik” dari bahasa pemrograman web.

Setelah itu, anda bisa memutuskan ke 2 bidang lanjutan, yakni apakah fokus ke sisi design saja yang disebut sebagai front-end developer, atau fokus ke sisi server yang disebut sebagai back-end developer.

Jika ingin fokus ke sisi front-end, pelajari materi lanjutan dari CSS dan JavaScript, misalnya framework CSS seperti Bootstrap, Materialize, Bulma, serta framework JavaScript seperti jQuery, Vue atau React. Skill design juga sangat diperlukan di sini, karena fokus utamanya adalah bagaimana membuat tampilan web yang menarik.

Jika ingin fokus ke sisi back-end, pelajari materi lanjutan dari PHP seperti framework Code Igniter dan Laravel. Alternatif lain bisa juga menggunakan bahasa JavaScript backend dengan NodeJS beserta frameworknya.


Jadi Bahasa Apa yang Harus Saya Pelajari?

Pertama, tentukan minat ingin membuat aplikasi apa, apakah desktop, mobile atau web. Ketiganya masih dibutuhkan hingga saat ini. Namun bagi saya pribadi, prospek aplikasi desktop terlihat sudah sedikit berkurang karena semua perusahaan ingin go mobile dan go online. Meskipun sebenarnya aplikasi desktop juga bisa dibuat online.

Setelah menentukan satu bidang tertentu, lanjut pelajari bahasa pemrograman yang “mass market”. Selain peluangnya lebih besar, materi belajarnya juga relatif banyak dibandingkan bahasa pemrograman yang niche market. Jika anda tetap berminat belajar bahasa pemrograman tambahan, lakukan setelah paham bahasa pemrograman umum terlebih dahulu.

Untuk aplikasi desktop, Visual Studio menjadi pilihan terbaik. Alternatif lain yang lebih niche bisa ke Delphi, Java, dan Python.

Untuk aplikasi mobile (android), bahasa Java di dalam Android Studio sangat disarankan. Alternatif lain bisa ke Kotlin.

Untuk aplikasi website, materi awal ada di 5 bahasa pemrograman: HTML, CSS, PHP, JavaScript dan MySQL.

Jika ingin fokus ke web front-end, tidak ada pilihan lain dari HTML, CSS dan JavaScript, kemudian lanjut ke materi advanced yang terdiri dari framework CSS, framework JavaScript, serta skill design seperti Photoshop dan Ilustrator.

Jika ingin fokus ke web back-end, pilihan pertama yang saya sarankan adalah PHP, karena bahasa pemrograman ini yang masih paling banyak dipakai, terlepas dari tingkat popularitas yang agak menurun. Nanti fokuskan di materi framework seperti Code Igniter dan Laravel.

Alternatif bahasa back-end lain ada di JavaScript melalui Node.js serta berbagai teknologi pendukung. Python dan Java juga bisa jadi pilihan lain untuk pemrograman web back-end, meskipun ini masuk ke niche market.

Data Science?

Selain ketiga bidang ini (desktop, mobile dan web), sebenarnya ada ada bidang programming lain yang sudah booming duluan di luar negeri terutama di amerika dan eropa, yakni data science.

Ini adalah bidang gabungan dari matematika (terutama statistik) dan programming. Bahasa pemrograman utama yang dipakai adalah bahasa R dan Python. Ini juga bisa jadi pilihan yang menarik, namun memang lowongan kerja di Indonesia belum sebanyak 3 bidang aplikasi umum.

Selain itu data science butuh pemahaman berbagai rumus matematika, yang kadang kurang cocok bagi sebagian besar calon programmer yang sudah alergi duluan ketika mendengar kata “matematika”.


Perusahaan Butuh Skill yang Advanced

Tips terakhir yang tidak kalah penting adalah, perusahaan butuh skill yang advanced, tidak sekedar paham dasar saja.

Misalkan anda ingin melamar sebagai programmer web back-end, maka bermodalkan membaca 1 atau 2 buku web belum cukup. Biasanya perusahaan mensyaratkan paham hingga framework, boleh pilih salah satu dari Code Igniter atau Laravel.

Perusahaan pun menuntut calon programmer memiliki pemahaman yang baik tentang konsep dasar programming, seperti OOP (Object Oriented Programming). Karena bisa jadi ada yang mengaku paham Laravel, atau bisa membuat 1 atau 2 aplikasi namun hasil copy paste tanpa paham apa fungsi dari perintah yang ditulis.

Proses mempersiapkan skill ini memang tidak bisa sebentar. Jika mulai dari nol, menurut saya perlu waktu belajar setidaknya 1 – 2 tahun. Proses belajar juga harus diselingi antara mengikuti apa yang diajarkan di buku / tutorial / mentor, serta studi kasus mencoba membuat aplikasi sendiri.

Khusus bagi mahasiswa jurusan komputer (TI/SI/Ilmu Komputer), siapkan diri anda sejak di kampus. Sangat sering terjadi ada lulusan sarjana komputer tapi tidak bisa programming sama sekali, lalu marah-marah ke pemerintah karena lowongan kerja susah serta di gaji rendah.

Menyalahkan keadaan tidak akan menghasilkan apa-apa. Kitalah yang harus berbenah dan harus mau kerja keras. Di balik seorang programmer yang sukses, banyak pengorbanan yang harus dilakukan. Ditambah lagi setiap tahun dunia kerja juga di banjiri ribuan sarjana komputer baru, sehingga hanya yang terbaiklah yang akan diterima.

Peluang kerja bagi programmer selalu tersedia, dan seiring perkembangan teknologi, akan makin dicari.. Dengan ketekunan, kerja keras dan semangat pantang menyerah, pekerjaan sebagai programmer profesional dengan gaji di atas 10jt sangat mungkin bisa di raih. Atau mana tau anda lah yang akan mendirikan Start up unicorn Indonesia berikutnya!

Belajar programming dari nol punya tantangan tersendiri. Jika anda termasuk salah satunya, bisa juga lanjut baca ke: Bagaimana Urutan Belajar Programming Untuk Pemula?.

*** Artikel Terkait ***

One Response

  1. Roli Sambas
    20 Oct 19

Add Comment